Perang Antar Negara IRAN -- ISRAEL dan AS Tercantum dalam QS.Alquran,Terprediksi Nyata Umat Muslim Islam Sejatinya bukan Karena Perbedaan Mazhab!!!

BuruSergap86.com --- Sejarah Palestina dan Iran,Kutipan,Wikipedia dalam Catatan Singkat Sejarah,Perang Dunia III, terprediksi di Surat Alquran,maka Intel-intal Israel dan Intel Amerika Serikat(USA)Berteriak Mengkafirkan Negara IRAN,Namun Warga Masyarakat Persia Siap Menghadapi Hal tersebut dalam Perang yang di Hadapi nya,Tertuang pada isi Bacaan Alquran Tercantum di Akhir Mendekati Zaman Canggih Teknologi Rudal balistik Nuklir.

Sejarah Umat Islam dan Ketika kita membaca kitab suci Al-Qur'an,menelisik Pada hadits Bukhari dan Muslim di pesantren, pernahkah kita sadar bahwa kedua imam agung itu adalah Asal orang Persia? Bahwa sebagian besar ulama yang mewariskan ilmu Nabi lahir dari tanah yang dulu disebut Persia, kini bernama Iran? Berhubungan juga terkait Negara Palestina, Tetapi Ironisnya,masih ada umat Islam yang meragukan Iran hanya karena perbedaan mazhab atau pengaruh propaganda Barat. Padahal fakta sejarah membuktikan:Iran bukan bagian asing dari Islam, darah mereka telah berpadu secara fisik dengan darah Nabi Muhammad SAW. 

Hubungan ini bukan sekadar simbolis, tapi ikatan nasab yang nyata dan terus berlanjut hingga hari ini.

Mazhab dalam Islam adalah metode (manhaj), aliran,atau pokok pikiran yang dirumuskan oleh seorang Imam Mujtahid dalam menggali hukum Islam (fikih) dari sumber utamanya,yaitu Al-Qur'an dan Hadis. Mazhab bukan sekadar pendapat pribadi, melainkan kumpulan sistem hukum yang terstruktur,mencakup kaidah-kaidah ijtihad yang digunakan untuk memahami ajaran agama.

mazhab artinya dalam islam,Mazhab dalam Islam adalah metode (manhaj), aliran, atau pokok pikiran yang dirumuskan oleh seorang Imam Mujtahid dalam menggali hukum Islam (fikih) dari sumber utamanya, yaitu Al-Qur'an dan Hadis. Mazhab bukan sekadar pendapat pribadi, melainkan kumpulan sistem hukum yang terstruktur, mencakup kaidah-kaidah ijtihad yang digunakan untuk memahami ajaran agama. 

al-Afkar, Journal For Islamic Studies +3 Berikut adalah poin-poin penting mengenai mazhab:

Secara Bahasa: Mazhab berasal dari bahasa Arab dzahaba yang berarti jalan yang dilalui atau dilewati.

Fungsi: Mazhab berfungsi sebagai pedoman bagi umat Muslim untuk menerapkan hukum Islam dalam ibadah,muamalah (transaksi), dan kehidupan sehari-hari.

Perbedaan: Mazhab muncul karena perbedaan metode dalam menafsirkan dalil, situasi sosial,dan konteks sejarah, bukan perbedaan dalam akidah dasar.

4 Mazhab Utama (Sunni):

Mazhab Hanafi: Didirikan Imam Abu Hanifah,terkenal fleksibel, banyak diikuti di Asia Selatan.

Mazhab Maliki: Didirikan Imam Malik, menekankan tradisi penduduk Madinah.

Mazhab Syafi'i: Didirikan Imam Syafi'i, dominan di Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Mazhab Hanbali: Didirikan Imam Ahmad bin Hanbal,sangat berpegang teguh pada nash. 

Wikipedia +5,Mengikuti salah satu dari empat mazhab ini diperbolehkan dalam Islam sebagai cara untuk memahami ajaran agama dengan benar.

Empat mazhab utama dalam fikih Islam Sunni Hanafi, Maliki,Syafi'i,dan Hambali adalah metode ijtihad hukum berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah yang didirikan oleh Imam Abu Hanifah,Imam Malik, Imam Syafi'i,dan Imam Ahmad bin Hambal. Mazhab-mazhab ini diakui secara luas, memiliki ciri khas ijtihad masing-masing,dan menjadi rujukan utama tata cara ibadah umat Muslim.

Berikut adalah penjelasan mengenai arti mazhab dalam Islam,konsepnya, serta penjelasannya dalam konteks Al-Qur'an:

1. Arti Mazhab dalam Islam.

Secara Bahasa (Etimologi): Kata "Mazhab" berasal dari bahasa Arab (dzahaba-yadzhabu-dzahaban-madzhaban) yang berarti jalan, tempat yang dilalui, atau arah yang ditempuh.

Secara Istilah (Terminologi): Mazhab adalah aliran pemikiran, metode, atau pendapat hukum fikih yang dirumuskan oleh seorang imam mujtahid (alim besar) dalam memahami ajaran Islam berdasarkan dalil-dalil Al-Qur'an dan hadis. 

Mazhab merupakan sistem hukum fikih yang rujukan utamanya adalah metode ijtihad imam tertentu (seperti Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali) yang kemudian dibakukan oleh murid-muridnya. 

mazhab artinya dalam islam dalam Alquran termaktub,Berikut adalah penjelasan mengenai arti mazhab dalam Islam, konsepnya, serta penjelasannya dalam konteks Al-Qur'an:

1. Arti Mazhab dalam Islam.

Secara Bahasa (Etimologi): Kata "Mazhab" berasal dari bahasa Arab (dzahaba-yadzhabu-dzahaban-madzhaban) yang berarti jalan, tempat yang dilalui, atau arah yang ditempuh.

Secara Istilah (Terminologi): Mazhab adalah aliran pemikiran, metode, atau pendapat hukum fikih yang dirumuskan oleh seorang imam mujtahid (alim besar) dalam memahami ajaran Islam berdasarkan dalil-dalil Al-Qur'an dan hadis. 

Mazhab merupakan sistem hukum fikih yang rujukan utamanya adalah metode ijtihad imam tertentu (seperti Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali) yang kemudian dibakukan oleh murid-muridnya. 

2. Mazhab dalam Al-Qur'an.

Kata "Mazhab" secara literal (harfiah) memang tidak tertulis secara spesifik dalam ayat Al-Qur'an. Namun, konsep bermazhab (mengikuti metode ahli ilmu) didasarkan pada prinsip-prinsip umum dalam Al-Qur'an mengenai kewajiban bertanya kepada orang yang berilmu.

Konsep ini dirujuk pada:

QS. An-Nahl: 43 & QS. Al-Anbiya: 7:

"...maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui."
Maknanya: Orang awam diperintahkan untuk mengikuti (bertaklid/bermazhab) kepada ulama/mujtahid yang ahli dalam memahami dalil.

Konsep "Jalan" (Sabil): Secara konseptual, mazhab adalah jalan yang ditempuh untuk memahami Islam. Al-Qur'an memerintahkan umat untuk mengikuti jalan orang-orang yang beriman atau orang-orang yang bertaubat (menuju Allah). 

Di kutip dari Catatan Singkat Sejarah,Ketika pasukan Umat Islam di masa Khalifah Umar bin Khattab menaklukkan Persia,tidak terjadi pemusnahan,melainkan perpaduan agung dua peradaban umat. 

Putri terakhir Kisra Persia,Syahrbanu, dinikahkan dengan Husain bin Ali, cucu kesayangan Rasulullah. Dari rahim putri Persia itu lahir Ali Zainal Abidin, Imam keempat yang dihormati kaum muslimin. Artinya,seluruh Imam keturunan Husain adalah darah daging Persia dari pihak ibu. Mereka adalah bukti hidup bahwa Islam dan Persia telah menyatu dalam ikatan keluarga yang tidak terputus. Imam Ja'far Shadiq, Imam Musa Kadzim,hingga Imam Mahdi yang diyakini, semuanya mewarisi darah Persia. 

Jadi ketika kita bicara Iran,kita sedang bicara tentang sanak saudara kita sendiri, keturunan Nabi yang lahir dari rahim ibu-ibu Persia.

Dalam sejarah keilmuan Islam,bangsa Persia menjadi pilar utama.Nabi Muhammad Saw bersabda, "Seandainya iman itu berada di gugusan bintang Tsurayya, niscaya orang-orang dari Persia akan meraihnya."Terbukti,Siapa yang membukukan hadits-hadits Nabi? Imam Bukhari,Imam Muslim,Imam Abu Daud,Imam Tirmidzi,Imam Nasa'i,Ibnu Majah,semuanya dari Persia. 

Siapa yang merumuskan Tata Bahasa Arab agar Al-Qur'an terbaca benar? Imam Sibawaih orang Persia. Siapa ulama tasawuf, filsafat,kedokteran,dan astronomi yang mengharumkan Islam? Rata-rata keturunan Persia. 

Ironis jika ada muslim yang merendahkan Iran, padahal ilmu agamanya diwarisi dari ulama Persia. Tanpa mereka,kita mungkin masih bingung membedakan hadits shahih dan dhaif. Darah intelektual Persia mengalir dalam pembuluh darah keilmuan Islam.

Lalu bagaimana dengan realitas politik hari ini? Perhatikan peta Timur Tengah. Negara-negara Arab tidak sungkan-sungkan menjalin hubungan mesra dengan Israel. Normalisasi terjadi di mana-mana.Yang dulu vokal membela Palestina,kini diam seribu bahasa. Di tengah hipokritisme itu,siapa yang masih berani teriak anti-Israel? Siapa yang masih memasok senjata ke Hamas? Siapa yang konsisten membangun poros perlawanan dari Teheran hingga Beirut? Jawabannya hanya satu: Iran. Dukungan mereka kepada Palestina bukan basa-basi politik,tapi doktrin ideologis sejak Revolusi Islam 1979. 

Mereka tidak pernah mengakui Israel,tidak pernah menjual Palestina demi investasi,dan tidak takut ancaman AS.Membela Iran berarti membela diri sendiri,Membela Quds, dan membela harga diri umat Islam yang terinjak-injak. Jika propaganda Barat berhasil menjatuhkan Iran dan Palestina,Tamatlah riwayat perlawanan terhadap Zionis Dzolim yang merusak Reputasi Citra Umat Muslim Islam Se-Dunia, karena Sudah Banyak Penderitaan Umat Muslim Islam di kawasan tersebut,Silsilah Darah Nabi yang mengalir di Iran layak kita bela,bukan karena fanatisme mazhab, tapi karena ikatan kekerabatan dan perjuangan yang sama.

Sejarah Islam di Palestina dimulai pada abad ke-7 (era Rasyidin)melalui Arabisasi, dengan mayoritas penduduk menjadi Sunni. Iran, awalnya Zoroaster, masuk Islam pada abad ke-7, lalu mengadopsi Syiah sebagai agama negara di bawah Dinasti Safawi (1501). Iran mendukung Palestina secara ideologis pasca-Revolusi 1979, sering menentang Israel yang di ketahui melakukan Kedzaliman terhadap umat muslim Islam. 

Sejarah Umat Muslim di Palestina dan Iran, Tercatat Jelas dan memiliki Bukti Fakta Nyata termasuk Sejarah Islam di Palestina Jaman Para Nabi-nabi terdahulu.dimulai pada abad ke-7 (era Rasyidin) melalui Arabisasi,dengan mayoritas penduduk menjadi Sunni. Iran, awalnya Zoroaster,masuk Islam pada abad ke-7,lalu mengadopsi Syiah sebagai agama negara di bawah Dinasti Safawi (1501). Iran mendukung Palestina secara ideologis pasca-Revolusi 1979,sering menentang Israel.

Berikut Kutipan YouTube dan Wikipedia Sebagai Bukti Fakta Nyata adalah rincian Sejarah Umat Muslim di Negara Palestina dan Negara Iran:

1. Sejarah Umat Muslim di Palestina

Awal Islamisasi: Palestina ditaklukkan oleh tentara Arab Rasyidin pada abad ke-7. Proses ini membawa Arabisasi dan Islamisasi yang berlanjut di bawah dinasti Umayyah, Abbasiyah,dan Fatimiyah.

Era Kekhalifahan: Wilayah ini berada di bawah kendali Kekhalifahan Utsmaniyah (Ottoman) sejak 1516 hingga Perang Dunia I (1917). Di bawah Utsmaniyah, Muslim, Kristen, dan Yahudi hidup berdampingan di bawah sistem dhimmah.

Perubahan Demografi: Meskipun ada perdebatan tentang waktu pasti, mayoritas penduduk Palestina menjadi Muslim melalui konversi, terutama pada masa Mamluk dan Utsmaniyah.

Konflik Modern: Menjelang akhir abad ke-19, imigrasi Zionis mulai mengubah struktur sosial-politik Palestina. Pasca-1948, perjuangan umat Muslim Palestina berfokus pada kemerdekaan dan hak atas tanah mereka. 

2. Sejarah Umat Muslim di Iran

Masuknya Islam: Sebelum Islam, Iran adalah pusat Kekaisaran Sassania yang menganut Zoroastrianisme. Penaklukan Arab pada pertengahan abad ke-7 (Pertempuran al-Qadisiyyah 636 M) mengubah lanskap agama dan sosial Iran.

Dominasi Sunni ke Syiah: Selama berabad-abad (abad 7-16), Islam Sunni mendominasi. Titik balik terbesar terjadi pada 1501 ketika Dinasti Safawi menjadikan Islam Syiah sebagai agama resmi, yang membentuk identitas Iran modern.

Revolusi Islam 1979: Iran bertransformasi dari monarki (di bawah Shah Pahlavi) menjadi Republik Islam di bawah pimpinan Ayatollah Khomeini, melembagakan gagasan politik Syiah. 

3. Hubungan dan Solidaritas Iran-Palestina

Sebelum 1979: Iran di bawah Shah adalah sekutu Israel dan salah satu negara Islam pertama yang mengakui Israel.

Pasca-1979: Setelah Revolusi Islam, Iran memutus hubungan dengan Israel dan memulai dukungan ideologis serta militer terhadap gerakan perlawanan Palestina (seperti Hamas dan Jihad Islam).

Solidaritas: Meskipun berbeda mazhab (Iran mayoritas Syiah, Palestina mayoritas Sunni), Iran menekankan solidaritas anti-Zionis dan dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina. 

Kedua wilayah ini memiliki sejarah panjang perkembangan Islam, dengan Palestina berakar kuat pada tradisi Sunni di Levantine, sementara Iran bertransformasi menjadi pusat kekuatan Syiah.

Terlihat jelas bahwa Kompak bahkan terBukti Fakta Nyata Islam bersatu padu dari Dahulu hingga Sekarang ini,Menu

Iran dan Gerakan Nasionalis Palestina

Unduh PDF

Navigasi Halaman

Sejarah Hubungan: Para Revolusioner Khomeini Berubah dari Proksi Fatah Menjadi Pelindung Kelompok Bersenjata Palestina

Dukungan Penuh: Dukungan Militer Iran kepada Kelompok-kelompok Palestina

Dukungan Sosial

Penyusupan Iran ke dalam Diaspora Palestina

Kesimpulan

Sejak didirikan pada tahun 1979, Republik Islam Iran telah menjadi pendukung utama perjuangan Palestina. Motivasi Teheran ada dua: mereka menginginkan negara Palestina merdeka yang didirikan dengan mengorbankan Israel dan menggunakan gerakan nasionalis Palestina untuk mengekspor Revolusi Islamnya.

Penyelesaian damai apa pun atas konflik Israel-Palestina akan bertentangan dengan narasi Iran bahwa Israel adalah penyebab semua konflik dan ketidakstabilan di Timur Tengah. Oleh karena itu, Teheran berupaya melemahkan upaya perdamaian Israel-Palestina melalui dukungan militer kepada kelompok-kelompok Palestina, dukungan sosial langsung dan tidak langsung untuk warga Palestina, dan infiltrasi ke dalam diaspora Palestina.

Sejarah Hubungan: Para Revolusioner Khomeini Berubah dari Proksi Fatah Menjadi Pelindung Kelompok Bersenjata Palestina

Kesamaan Kepentingan Khomeini dan Arafat

Para pemberontak Iran pimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini menjalin hubungan dengan para pemimpin Palestina bertahun-tahun sebelum Revolusi Islam 1979. Anti-Semitisme dan anti-Zionisme ideologis mendorong penentangan Khomeini terhadap keberadaan Israel. Lebih jauh lagi,Khomeini melihat bahwa peran sentral perjuangan Palestina bagi dunia Arab dapat menjadi pintu gerbang baginya untuk menyebarkan ideologi revolusionernya kepada masyarakat Arab Sunni yang mayoritas tidak menerima ideologi tersebut.

Khomeini menemukan mitra yang bersedia dalam diri Yasser Arafat, pendiri Fatah, ketua Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), dan pemimpin de facto gerakan nasionalis Palestina. Arafat menganggap Khomeini sebagai alat untuk memprovokasi Iran agar menentang Israel,sehingga negara Yahudi itu kehilangan salah satu sekutu regional terpentingnya dan sedikit sekutu Muslimnya. Oleh karena itu, Arafat menerima ketika Khomeini mengirim seorang pengikutnya pada tahun 1973 untuk membangun aliansi di dunia Muslim. Arafat bertemu dengan Khomeini setidaknya dua kali di kediaman Khomeini di pengasingan di Irak, dan setuju untuk melatih para pendukung ayatollah di pangkalan Fatah di Lebanon.

Fatah Melatih Para Revolusioner Khomeini

Antara tahun 1976 dan 1978, Fatah melatih para revolusioner Khomeini di Lebanon dan menyediakan dana , bimbingan, serta peralatan. Fatah secara efektif menciptakan dan membimbing inti dari apa yang kemudian menjadi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan aparat intelijen rezim Iran .

Pada tahun 1977,Fatah telah melatih lebih dari 700 pejuang Khomeini, termasuk putra-putra ulama tersebut, Mustafa dan Ahmad. Banyak dari lulusan Iran ini —termasuk Ahmad, yang menjadi anggota kehormatan Fatah—berpartisipasi dalam serangan Fatah terhadap faksi-faksi Kristen Lebanon.

Arafat juga mengembangkan hubungan pribadi dengan Khomeini, mengiriminya surat belasungkawa ketika Mustafa meninggal pada tahun 1977. Sebagai balasannya, ketika Khomeini berada di bawah tekanan dari Saddam Hussein pada tahun 1978, ayatollah tersebut mempertimbangkan untuk mencari perlindungan di antara milisi Palestina pimpinan Arafat di Lembah Bekaa, Lebanon, tetapi akhirnya pindah ke Prancis.

Fatah Membantu Revolusi Islam

Fatah, secara langsung maupun tidak langsung, membantu Revolusi Islam Iran, bahkan seorang pejabat Palestina pada tahun 1978 membual tentang peran PLO dalam "memicu kekacauan di Iran." Tokoh senior Fatah, Hani al-Hassan, mengarahkan upaya intelijen pasukan Khomeini. (Al-Hassan memimpin pengawal Khomeini segera setelah ulama itu kembali ke Iran, dan Arafat menunjuknya sebagai duta besar pertama PLO untuk Republik Islam).

Pada Agustus 1978 , sekelompok pria bersenjata lengkap yang dilatih oleh warga Palestina terlibat bentrokan dengan pasukan Shah, menewaskan lima petugas polisi. Warga Palestina mungkin juga membantu memicu "titik tanpa kembali" revolusi, yaitu pembantaian "Jumat Hitam" oleh pasukan Shah terhadap para demonstran di Lapangan Jaleh pada 8 September 1978. Investigasi menunjukkan bukti bahwa para pria bersenjata Palestina mungkin telah memprovokasi pertumpahan darah tersebut dengan menembak tentara dari dalam kerumunan.

Saat revolusi memuncak, Shah Mohammad Reza Pahlavi melarikan diri dari Iran pada 16 Januari 1979, membuka jalan bagi kembalinya Khomeini ke negara itu dua minggu kemudian. Khomeini segera meminta bantuan Arafat dalam membentuk pemerintahan Islam. Ayatollah berjanji bahwa setelah ia memperkuat cengkeramannya pada rezim baru, ia akan "beralih ke masalah kemenangan atas Israel." Arafat menyambut baik keberhasilan revolusi tersebut, memandangnya sebagai titik balik dalam perjuangan Palestina melawan Israel, dan tiba di Teheran pada 5 Februari dengan delegasi Fatah dan PLO yang beranggotakan 31 orang . Kelompok tersebut termasuk banyak komando terlatih terbaik dari Pasukan Fatah-17, dinas keamanan pribadi Arafat, yang ditugaskannya untuk melindungi Khomeini.

Para penentang Khomeini mengklaim bahwa sejumlah besar militan Palestina tetap berada di Iran jauh setelah revolusi—" lebih dari 20.000 , " menurut mantan Perdana Menteri Iran Shahpour Bakhtiar. Yang lain mengklaim bahwa warga Palestina mengemudikan angkatan udara rezim baru atau berada di antara para militan yang merebut kedutaan besar AS di Teheran. Sebuah memorandum Badan Intelijen Pusat (CIA) tahun 1980 menunjukkan bahwa sekitar setengah lusin warga Palestina yang terkait dengan PLO tetap berada di Teheran untuk melatih IRGC yang baru dibentuk.

Khomeini Mulai Menggunakan Isu Palestina sebagai Alat Rezimnya

Meskipun Fatah membantu menggulingkan Shah,rezim Khomeini dengan cepat menundukkan Palestina kepada Iran dan merampas perjuangan mereka.

Pada awalnya,Arafat mencoba memanfaatkan hubungannya dengan Khomeini.Selama krisis sandera Iran, ia menggunakan hubungannya dengan ayatollah tersebut dalam upaya untuk bertindak sebagai perantara dalam pembebasan sandera Amerika, dan dengan demikian memperoleh pengakuan dari Amerika Serikat. Namun, Khomeini keberatan, dan Arafat menarik tawarannya, yang menunjukkan keterbatasan pengaruhnya terhadap ayatollah tersebut.

Demikian pula, setelah Israel menginvasi Lebanon pada tahun 1982 dan menghancurkan benteng PLO di Beirut, dan ketika Perang Iran-Irak berkecamuk, PLO merekomendasikan agar Khomeini menerima usulan Irak untuk gencatan senjata dan bergabung dalam pertempuran melawan Israel. Gencatan senjata juga akan mengurangi tekanan pada Arafat untuk memihak dalam Perang Iran-Irak. Mendukung Iran akan membahayakan hubungan PLO dengan negara-negara Arab Teluk, yang khawatir akan niat Iran untuk mengekspor revolusi. Ayatollah menolak nasihat Arafat, dengan menyatakan bahwa "jalan menuju Yerusalem melewati [kota Irak] Karbala!" Sekali lagi, Khomeini menunjukkan bahwa Iran—bukan Palestina—yang menentukan syarat-syarat hubungan mereka.

Teheran segera menunjukkan bahwa mereka tidak akan memperlakukan mantan pendukung Palestina mereka sebagai mitra yang setara. CIA memperkirakan bahwa rezim Khomeini sengaja menjaga kehadiran PLO di Iran pasca-revolusi "relatif terbatas" untuk "mencegah Palestina memainkan peran penting dalam urusan internal Iran." Meskipun Khomeini mengundang pejuang PLO untuk melatih IRGC yang baru dibentuk, orang-orang Palestina ini akhirnya memainkan "peran kecil dalam pembentukan Garda Revolusi karena banyak pejabat Iran, termasuk penasihat militer reguler, khawatir bahwa Palestina akan mendapatkan terlalu banyak pengaruh di militer Iran."

Seiring berjalannya waktu, rezim Khomeini terus memanfaatkan hubungannya dengan Palestina untuk memajukan kepentingan regional Teheran. Pada konferensi solidaritas PLO di Lisbon pada November 1979, salah satu lulusan Iran pertama Fatah, Mohammad Montazeri, berjanji untuk merekrut 100.000 relawan Iran untuk melawan Israel atas nama Palestina. Sekilas, janji ini tampak memenuhi janji Khomeini untuk mulai bergabung dalam perjuangan Palestina melawan Israel, tetapi Iran memiliki niat lain.

Sebulan kemudian, 400 relawan Iran pertama tiba tanpa pemberitahuan di Damaskus. Namun,alih-alih bergabung dengan salah satu dari beberapa faksi Palestina yang beroperasi di Lebanon, mereka menyatakan niat mereka untuk pergi ke Lebanon guna mendirikan gerakan Syiah,meneriakkan slogan-slogan seperti "Hari ini Iran, besok Palestina."Alih-alih berupaya membebaskan Palestina, mereka mengeksploitasi perjuangan Palestina untuk menyebarkan revolusi Iran. Tak lama kemudian, upaya-upaya ini akan memuncak pada pembentukan Hizbullah oleh Iran di Lebanon.

Iran Menggunakan Hizbullah untuk Menenggelamkan Fatah

Hubungan Republik Islam Iran dengan Fatah dan PLO segera memburuk, terutama pada akhir tahun 1980-an, ketika Arafat mengisyaratkan keinginannya untuk melakukan detente dengan Israel. Ketika hubungan antara Teheran dan Arafat memburuk,Imad Mughniyeh komandan Hezbollah yang kemudian terkenal dan memulai karier terorisnya sebagai pengawal Arafat di Pasukan-17 Fatah turun tangan untuk bertindak sebagai penghubung antara mentor lamanya dan Iran serta Hezbollah. Mughniyeh menjadi kecewa dengan Fatah setelah kekalahan PLO selama invasi Israel ke Lebanon dan segera membelot ke IRGC. Meskipun demikian, Mughniyeh tetap menjalin kontak dengan Arafat dan faksi-faksi Palestina lainnya, bahkan setelah diusir dari Beirut ke Tunisia pada tahun 1982.

Liputan:*E'en Nst --Tim Redaksi Media-C45T*

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak

PT.KONTRAS NEWS COM *Pimpinan Perusahaan:Castello *Nomor Kontak Media: 0813-6593-5144 *S.K.Kemenkuham AHU-:036739.AH.01.30.Tahun 2022 *NPWP:90.829.762.5-212.000