BuruSergap86.com -- Manca Negara/US,Kabar mengejutkan datang dari jajaran tertinggi militer Amerika Serikat. Menteri Angkatan Laut AS (Secretary of the Navy), John C. Phelan, secara resmi mengundurkan diri dari jabatannya dan berlaku efektif segera.Informasi Masuk Pada hari Kamis(23/04/2026).
Pengumuman kepergian pejabat tinggi ini disampaikan secara mendadak tanpa penjelasan rinci mengenai alasan spesifik di balik keputusannya.Langkah ini menambah daftar perubahan besar yang terjadi di tubuh pertahanan AS di tengah situasi geopolitik yang sangat panas,terutama menyusul konflik yang melibatkan Angkatan Laut di berbagai wilayah strategis seperti Teluk Persia.
Kepergian Phelan terjadi tak lama setelah berbagai laporan mengemuka terkait kondisi logistik,ketersediaan amunisi,hingga dugaan penyembunyian data korban yang sempat menjadi sorotan publik.Banyak pihak menilai bahwa pergantian posisi strategis ini memiliki kaitan erat dengan tekanan berat yang sedang dihadapi institusi militer saat ini.
Hingga berita ini diturunkan,belum ada konfirmasi resmi mengenai siapa yang akan menggantikan posisi tersebut maupun detail lengkap mengenai latar belakang pengunduran diri ini.
Kepergian Phelan terjadi hanya beberapa saat setelah terungkap fakta bahwa sejak perang meletus, tercatat lebih dari selusin pejabat tinggi telah mundur atau diberhentikan secara paksa.
Daftar Nama Besar yang Mundur/Dipecat:
- John C. Phelan (Sekretaris Angkatan Laut)Pejabat sipil tertinggi di Angkatan Laut ini lengser mendadak tanpa alasan resmi yang jelas, di tengah tekanan operasi di Teluk Persia.
- Joseph Kent (Kepala Pusat Kontra Terorisme Nasional)Mundur dengan pernyataan keras: "Iran tidak mengancam AS secara langsung, perang ini tidak perlu terjadi."
- Jenderal Randy George (Kepala Staf Angkatan Darat)Posisi nomor satu di Angkatan Darat dipaksa pensiun dini padahal masa jabatan masih panjang.
- Jenderal David Hodne & Mayjen William Green Jr.- Komandan dan pejabat tinggi lainnya di lingkungan Angkatan Darat juga ikut tersingkir.
Pola yang Terjadi,Para ahli menilai situasi ini sangat tidak wajar terjadi saat perang sedang berlangsung.
Sebagian mundur karena menolak kebijakan perang dan menilai strategi yang diambil salah,sementara sebagian besar lainnya diberhentikan paksa karena dianggap tidak sejalan dengan visi politik atau lambat mengeksekusi perintah.
Kombinasi antara krisis amunisi, dugaan penyembunyian korban, dan kini keretakan kepemimpinan ini semakin memperlihatkan betapa rapuhnya struktur kekuasaan militer AS saat ini.
Liputan:*E'en Nst --Tim Redaksi Media-C45T*


